FEMINISME DALAM PESANTREN: NARASI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DI PONDOK PESANTREN BUNTET CIREBON

Wardah Nuroniyah(1*),


(1) IAIN Syekh Nurjati Cirebon
(*) Corresponding Author

Abstract


Abstract: Discourse about women in the pesantren environment is an exclusive issue to be presented both internally in the pesantren and public. Women with various problems in the pesantren environment are a reflection of the "face" of Indonesian Muslim women. The debate between men and women in the study of feminism is often a sensitive topic so it does not rule out discrimination against women. In line with that, the researcher was moved to participate in exploring and driving the empowerment of women in the pesantren environment through research, namely feminism in the pesantren. More real, at one pesantren in Cirebon, the Buntet boarding school. Using a qualitative approach and using the structural-functional theory the results of the research found the fact that the role of women in the Buntet Cirebon boarding school is still limited to participatory in a functional structural framework. This role still limits the capacity of men and women in the pesantren environment. Whereas the development of feminism values in the Buntet Cirebon boarding school applies formally. In the sense that there has been a formal recognition that women have room to develop their roles and participation in the pesantren environment. While culturally, there are still remnants of the patriarchal culture that are not easily removed from pesantren even though there have been changes little by little. The influence of feminist values on the doctrines and traditions of the pesantren in the Cirebon Buntet Islamic boarding school is the emergence of a more egalitarian understanding of the existence of women. Likewise, with the pesantren tradition, there began to be a shift from traditions that prioritized the role of men from women to the tradition of egalitarianism in looking at women. In the next stage, women are no longer considered as subordinate men but become free and independent persons.

Keywords: Women, Feminism, Gender, Pesantren, Cirebon


Abstrak: Diskursus mengenai perempuan di lingkungan pesantren menjadi persoalan yang eksklusif untuk disajikan baik pada internal pesantren maupun di muka publik. Perempuan dengan berbagai problematikanya dalam lingkungan pesantren merupakan sebuah cerminan “wajah” perempuan Islam Indonesia. Perdebatan antara laki-laki dan perempuan dalam kajian feminisme sering menjadi topik yang sensitif sehingga tidak menutup kemungkinan adanya diskriminasi terhadap perempuan. Sejalan dengan itu, peneliti tergerak untuk ikut mendalami dan menggerakkan pemberdayaan perempuan dalam lingkungan pesantren melalui penelitian yaitu feminisme dalam pesantren. Lebih riilnya, pada salah satu pesantren di Cirebon yaitu pondok pesantren Buntet. Dengan Pendekatan kualitatif dan menggunakan teori struktural-fungsional hasil penelitan menemukan fakta bahwa peranan perempuan di pondok pesantren Buntet Cirebon masih sebatas partisipatoris dalam kerangka struktural fungsional. Peran tersebut masih membatasi antara kapasitas laki-laki dan perempuan di lingkungan pesantren. Sedangkan Pengembangan nilai-nilai feminisme di pondok pesantren Buntet Cirebon berlaku secara formal. Dalam artian telah ada pengakuan secara formal bahwa perempuan mendapatkan ruang untuk mengembangkan peranan dan partisipasinya di lingkungan pesantren. Sedangkan secara kultural, masih terdapat sisa-sisa budaya patriarkhi yang tidak mudah dihilangkan dari pesantren meskipun telah ada perubahan sedikit demi sedikit. Adapun Pengaruh nilai-nilai feminisme terhadap doktrin dan tradisi pesantren di pondok pesantren Buntet Cirebon adalah munculnya pemahaman yang lebih egaliter terhadap eksistensi perempuan. Begitu pula dengan tradisi pesantren, mulai ada pergeseran dari tradisi yang lebih mengutamakan peran laki-laki dari pada perempuan menjadi tradisi egalitarianisme dalam memandang perempuan. Pada tahapan selanjutnya, perempuan tidak lagi dianggap sebagai subordinat laki-laki tetapi menjadi pribadi yang bebas dan mandiri.

Kata Kunci: Perempuan, Feminisme, Gender, Pesantren, Cirebon


Full Text:

PDF

References


Azwar, Saifuddin. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, Cet. VII.

Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES, 1982.

Engineer, Asghar Ali. Pembebasan Perempuan, terj. Agus Nuryatno. Yogyakarta: LKiS, 2003.

Ismail, Nurjannah. Perempuan dalam Pasungan: Bias Laki-laki dalam Penafsiran. Yogyakarta: LkiS, 2003.

Jamhari dan Ismatu Ropi (ed.). Citra Perempuan dalam Islam: Pandangan Ormas Keagamaan. Jakarta: Gramedia Utama, 2003.

Maula, Bani Syarif. “Keniscayaan Penggunaan Analisis Gender dalam Studi al-Ahwāl asy-Syakhsiyyah”, Al-Ahwal, Vol. 4, No. 1, 2011.

Megawangi, Ratna. Membiarkan Berbeda: Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender. Bandung: Mizan, 1999, Cet. I.

Qomar, Mujamil. Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Jakarta: Erlangga, 2005.

Towaf, Siti Malikhah. “Peran Perempuan, Wawasan Gender dan Implikasinya terhadap Pendidikan di Pesantren” dalam Jurnal Ilmu Pendidikan, Jilid 15, No. 3, Oktober 2008.

Towaf, Siti Malikhah. “Wawasan Gender dan Peran Produktif Perempuan Pesantren” dalam Jurnal Aplikasi Manajemen, Volume 6, Nomor 2, Agustus 2008.

Venny, Adriana (ed.). “Pentingnya Metodologis Feminis di Indonesia”, dalam Jurnal Perempuan, No. 48, Juli, 2006.

Wahid, Abdurrahman. Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren. Yogyakarta: LKiS, 2001.

Yasmadi. Modernisasi Pesantren. Jakarta: Ciputat Press, 2002.




DOI: 10.24235/equalita.v1i1.5163

Article Metrics

Abstract view : 21 times
PDF - 16 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.