WAKAF DIRI DI PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR DALAM PERSPEKTIF FIQH DAN UU NO. 41 TAHUN 2004

nice duroh duroh(1*),


(1) IAIN SYEKH NURJATI CIREBON
(*) Corresponding Author

Abstract


Wakaf dalam perspektif Fiqh dan UU No. 41 Tahun 2004 dapat dijadikan salah satu sarana untuk pemberdayaan kesejahteraan bagi masyarakat luas.Sekarang, masih banyak kendala untuk pengembangan wakaf kedepan. Salah satunya adalah pemahaman sempit tentang wakaf. Wakaf sering dipahami sebagai entitas ibadah khusus (maḥḍah) semata. Kini, suatu perkembangan yang menarik berkaitan dengan hukum wakaf dan pelaksanaannya di Pondok Modern Darussalam Gontor adalah meningkatnya kesadaran akan pentingnya wakaf produktif. Salah satunya adalah adanya wakaf diri

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa konsep wakaf dalam perspektif fiqh dan UU No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf, mendeskripsikan praktik wakaf diri di Pondok Modern Darussalam Gontor, dan menganalisis kedudukan wakaf diri dalam perspektif fiqh dan UU No. 41 tahun 2004.

Dalam penelitian ini digunakan tiga teori, Grand Theory menggunakan teori aksi dari Talcot Parson dan teori Kredo dari H.A.R. Gibb serta teori Syahādat asy- Syāfiʻī yang ditransformasikan ke dalam pembukaan dan batang tubuh Undang-undang dasar 1945; Middle theory menggunakan pola perubahan sosio-kultural Sorokin dan teori perubahan hukum Ibnu Qayim, dan Applicative Theory menggunakan teori al- maslahat dari asy-Syāţibī dan teori pragmatis dari William James.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan data kualitatif dan pendekatan keilmuan yuridis-normatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisis secara diskriptik analatik.

Konsep wakaf dalam perspektif fiqh dan UU No. 41 Tahun 2004 lebih menekankan pada status harta wakaf. Wakaf diri yang dipraktekkan di Pondok Modern Darusslam Gontor mengacu kepada maqāşid asy-syarīʻah yaitu mewujudkan kemaslahatan dan menghindarkan kemadaratan. Pertama, Kedudukan wakaf diri dalam perspektif fiqh ada dua klasifikasi, yaitu: (1) Wakaf diri diperbolehkan dan sah menurut Imam Abu Ḥanifah dan Imam Mālik, karena benda wakaf tetap menjadi milik wakif, sedang yang diwakafkan hanyalah manfaatnya yaitu berupa jasa dan tenaga demi kemaslahatan dan kemajuan Pondok Modern Darussalam Gontor. Jangka waktu wakaf harus selamanya dan tidak boleh dibatasi waktu. (2) Wakaf diri tidak sah ditinjau dari Mazhab Syafiʻi dan Mazhab Hanbali,  karena syarat benda wakaf adalah milik penuh wakif, sedangkan manusia tidak mempunyai hak milik atas dirinya sendiri menurut syara‟. Jangka waktu  wakaf boleh dibatasi  oleh  waktu  dan  tidak  harus  selamanya. Kedua, Kedudukan wakaf dalam perspektif UU No.41 Tahun 2004 tentang wakaf menyatakan  bahwa  wakaf  diri  yang  dipraktekkan  di  Pondok  Modern  Darussalam Gontor masih belum sesuai sepenuhnya dengan UU No.41 Tahun 2004, bahwa benda wakaf harus lepas dari wakif, ikrar wakaf harus dilakukan di hadapan PPAIW, dalam hal ini hanya dilakukan di hadapan Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor, dan naẓir Badan wakaf Pondok Modern tidak melaporkan kegiatan wakaf kepada Badan Wakaf Indonesia.

 

Kata kunci: Wakaf, fiqh, undang-undang, Gontor

Full Text:

PDF


DOI: 10.24235/inklusif.v1i1.800

Article Metrics

Abstract view : 1204 times
PDF - 1191 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


   

viev my staat