ANALISIS AKAD NIKAH VIA TELECONFERENCE MENURUT FIQIH MAZHAB DAN HUKUM POSITIF INDONESIA

Wardah Nuroniyah(1*),


(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Abstrak

 

Akad nikah melalui media komunikasi teleconference merupakan salah satu bentuk akomodasi kepentingan masyarakat, akad nikah semacam ini merupakan suatu alternatif pilihan efektif dan efesien (dengan tidak meninggalkan syariat Islam) bagi masyarakat modern. Dalam UUP 1974 maupun PP No. 9 Tahun 1975 hanya diatur tentang sahnya pernikahan yang dilaksanakan berdasarkan agama dan kepercayaannya, yakni sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) UUP 1974, lebih lanjut pernikahan tersebut harus dicatatkan ke Kantor Pencatatan Pernikahan (Pasal 2 ayat (2) Jo. Pasal 2 ayat (1) PP No. 9 Tahun 1975. Sedangkan dalam fiqih, penerapan syarat dan rukun nikah mempunyai sebuah landasan dan alasan yang rasional dan transanden untuk dilaksanakan. Setiap penetapan syara’harus diikuti dengan berbagai macam alasan, baik dari sisi manfaat, madlarat (dampak negatif), juga hal-hal lain seperti setting social historis yang ada waktu itu. Berkaitan dengan akad nikah via teleconference, ada beberapa point dalam syarat dan rukun nikah yang harus dianalisa yang jika diterapkan bisa menjadi perdebatan. Dengan menggunakan pendekatan normatif, analisis akad nikah via teleconference baik menurut fiqih mazhab dan hukum positif Indonesia,dapat dikaji argumentasi hukumnya. Jika diukur dengan hasil ijtihad para ulama terdahulu, khususnya Imam mujtahid yang empat, ternyata akad nikah via teleconfrence itu memang dapat saja dilaksanakan dengan syarat-syarat tertentu dan dalam keadaan tertentu. Dalam konteks ini berarti akad nikah melalui teleconfrence itu tidaklah dapat dikatakan sah begitu saja, akan tetapi bersifat kasuistis sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

 

Kata Kunci; Akad Nikah, Teleconfrence, Majlis Akad, Saksi dan Pencatatan

 

Abstract

 

Marriage through teleconference communication media is one form of accommodation of public interest, this kind of marriage contract is an alternative effective and efficient choice (by not leaving Islamic sharia) for modern society. In the UUP 1974 and PP no. 9 of 1975 is stipulated only on the validity of marriages which are conducted on the basis of their religion and belief, namely as provided for in Article 2 paragraph (1) of the UUP 1974, further the marriage shall be registered at the Marriage Registration Office (Article 2 paragraph (2) of Jo. Paragraph (1) of Government Regulation No. 9 of 1975. Whereas in fiqh, the application of the terms and principles of marriage has a rational and transparent basis and reason to be implemented. Each determination should be followed by various reasons, Negative impact), as well as other things like the historical social setting that existed at that time. In connection with the marriage contract via teleconference, there are several points in the terms and pillars of marriage that must be analyzed which if applied can be a debate. Using normative approach, Marriage via teleconference both according to jurisprudence and positive law of Indonesia, can be studied the legal argument. If measured by the results Ijtihad of the previous scholars, especially the four mujtahid Imam, the marriage contract via teleconfrence can indeed be carried out under certain conditions and under certain circumstances. In this context means the marriage contract through teleconfrence can not be said to be legal, but it is casuistic in accordance with the situation at hand.

 

Keywords; Akad Nikah, Teleconfrence, Majlis Akad, Witness and Recording


Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

bin/content.cgi/masail/aula/tahun_2004/nikah-01.single?seemore=y

bin/content.cgi/masail/aula/tahun_2004/nikah-01.single?seemore=y

Budi Putra, Planet Seluler, Tanggerang: Logicom Publications, cet, I, 2004.

Chuzaimah T. Yanggo, dan Hafidz Anshary AZ., Problematika Hukum Islam Kontemporer. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.

http://ahmad bin hanbal.wordpress.com/2010/06/21/hukum-menikah-via-internet/

http://searchnetworking. Techttarget.com/sDefinition/0,,sid7_gci213111,00.html.

http://tarjihmuhammadiyah.blogspot.com

http://vladamirivanovic.blogspot.com/2010/05/bm-diniyah-maudluiyah-muktamar-nu-ke-32.html/

http://www.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/kal_sejarah/maret/10maret.htm.

Ibn Rushd, Bidayat al-Mujtahid. Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1960.

Ibn Hajar al-‘Asqalani. Fath} al-Bari. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, tt.

Idha Apriliyana, Keabsahan Suatu pernikahan melalui Pemanfaatan Media Telekomunikasi dihubungkan Dengan penetapan pengadilan Agama Jakarta Selatan No. 1751/P/1989 tanggal 20 April 1990 mengenai Sahnya Pernikahan Melalui Telepon, Skripsi sarjana Universitas Pasundan Bandung, 1997.

John Naughton, A Brief History of the Future, editor, Lyndon Saputra, Sejarah Singkat dari Masa ke Masa Depan (Asal Usul Internet), Batam Centre, 2004.

al-Kasani, Ala’ al-Din. Badai‘ al-S}ana‘i fi Tartib al-Shara’i‘. Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Arabi, 1982.

Lahmuddin Nasution, Pembaharuan Hukum Islam dalam mazhab Syafi’i. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.

Mahfudz, Sahal. Solusi Problema Umat. Surabaya: Ampel Suci, 2003.

Majalah Majma’ al-Fiqh al-Islami, OKI, Periode ke-6, no: 2/1256.

Majalah Varia peradilan, No. 62 Th. VI 1990.

Majalat Majma‘ al-Fiqh al-Islami, OKI, Periode ke-6 (no: 2/1256).

Mughniyah, Muh}ammad Jawad. Fiqih Lima Mazhab. Cet. II. Jakarta: Lentera Basritama, 1996.

al-Qurahdaghi, ‘Ali Muh}y al-Din. Fiqih Digital. Penerjemah Pahruroji S. Yogyakarta: Qanun Prisma Media, 2003.

Rofiq, Ahmad. Hukum Islam di Indonesia. Yogyakarta: Gema Media, 2001.

Republik Indonesia. Undang-undang No. 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi, Kalibening: Pustaka Digital, SMP Alternatif Qaryah Thoyyibah, 2005.

www.inilah.com, Inovasi Portal Berita. Diakses Jumat, 26 Maret 2010, 16:14 WIB.

al-San‘ani, Muhammad ibn Isma‘il Amir al-Yamani. Subul al-Salam Sharh} Bulugh al-Maram. Cet. III. Lebanon: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1987.

al-Shafi‘i, ‘Abdullah Muhammad ibn Idris. al-Umm. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi, tt.

al-Shatri, Muh}ammad ibn Ah}mad ibn ‘Umar. Sharh al-Yaqut ‘an al-Nafs. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi, tt.

al-Suwayfi, Sulayman. Hashiyat al-Bujayrami ‘alá al-Khatib. Lebanon: Dar al-Kitab ‘Arabi, tt.

Zein, Satria Effendi M. Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, Analisis Yurisprudensi dengan Pendeketan Ushuliyah. Jakarta: UIN Jakarta dan Balitbang DEPAG RI, 2004.

al-Zuhayli, Wahbah. al-Fiqh al-Islami wa-Adillatuh. Beirut: Dar al-Fikr, 1986.




DOI: 10.24235/mahkamah.v2i1.1671

Article Metrics

Abstract view : 1795 times
PDF - 1044 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Mahkamah Indexed By:

  

 

Copyright of Mahkamah (Jurnal Kajian Hukum Islam) ISSN: 2355-0546 (print), ISSN: 2502-6593 (online)

 

Mahkamah (Jurnal Kajian Hukum Islam) is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.