Ekoteologi dalam Bingkai Etika Sadar Kawasan sebagai Alternatif dalam Menjawab Krisis Lingkungan

Arip Budiman(1*), Hasbiyallah Hasbiyallah(2), Aludin Aludin(3), Dindin Solahudin(4), Yusuf Zaenal Abidin(5),


(1) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
(2) Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati, Cirebon
(3) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
(4) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
(5) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
(*) Corresponding Author

Abstract


ABSTRAK: Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji kemungkinan kontribusi ekoteologi Islam dalam menjawab krisis lingkungan global melalui pembacaan atas etika sadar kawasan yang dikembangkan Komunitas Patanjala, sebagai artikulasi kearifan lokal Sunda yang terasimilasi dengan nilai-nilai Islam. Masalah utama yang diajukan adalah: pertama, apakah paradigma teologis Islam memiliki elastisitas untuk merespons krisis ekologis tanpa harus menanggalkan watak antroposentrisnya; kedua, bagaimana etika sadar kawasan Patanjala dapat menjadi medium rekonstruksi paradigma relasi manusia–alam yang kosmosentris dan berkeadilan ekologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis berbasis studi kepustakaan, yang mengkaji teks-teks ekoteologi kontemporer, literatur tentang krisis ekologi, serta sumber-sumber mengenai falsafah Patanjala dan praktik etika kawasan. Hasil kajian menunjukkan bahwa akar krisis ekologis tidak terletak pada doktrin agama, melainkan pada pembacaan yang memutus alam dari dimensi kesakralannya dan mereduksi manusia menjadi subjek eksploitasi tanpa batas. Dalam kerangka Patanjala, etika sadar Kawasan –dengan pembedaan tata ruang, tata wayah, dan tata lampah– menawarkan cara pandang lain yang menempatkan hak-hak alam sebagai prasyarat penentuan hak manusia, sekaligus menghidupkan kembali fungsi khalifah sebagai amanah etis dan spiritual. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya diskursus ekoteologi kontemporer dengan menghubungkan maqāṣid al-sharīah, konsep khalīfah fī al-ar, dan kearifan lokal Sunda dalam satu kerangka etis operasional dan praksis keagamaan. Praktis, etika sadar kawasan memberikan kerangka evaluatif untuk menimbang kebijakan dan gerakan lingkungan berbasis agama lokal. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa antroposentrisme teologis Islam dapat direformulasi melalui etika sadar kawasan menjadi paradigma tanggung jawab ekologis, sejalan dengan semangat deep ecology, sehingga ekoteologi Islam berpotensi tampil bukan hanya apologetik, tetapi propositif dalam merumuskan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.

ABSTRACT: This study aims to examine the potential contribution of Islamic ecotheology in addressing the global environmental crisis through an analysis of etika sadar kawasan (area-conscious ethics) as developed by the Patanjala Community, understood as an articulation of Sundanese local wisdom assimilated with Islamic values. The study raises two principal questions: first, whether the Islamic theological paradigm possesses sufficient elasticity to respond to ecological crises without abandoning its anthropocentric character; and second, how Patanjala’s area-conscious ethics may serve as a medium for reconstructing a cosmocentric and ecologically just paradigm of human–nature relations. Employing a qualitative approach with a descriptive-analytical method based on library research, this study examines contemporary ecotheological texts, literature on ecological crises, and sources concerning Patanjala philosophy and practices of spatial ethics. The findings indicate that the roots of the ecological crisis lie not in religious doctrine per se, but in interpretive frameworks that sever nature from its sacred dimension and reduce humans to subjects of limitless exploitation. Within the Patanjala framework, area-conscious ethics—through the differentiation of tata ruang (spatial order), tata wayah (temporal order), and tata lampah (practical conduct)—offers an alternative perspective that positions the rights of nature as a prerequisite for determining human rights, while revitalizing the concept of khalīfah as an ethical and spiritual trusteeship. Theoretically, this study enriches contemporary ecotheological discourse by integrating maqāṣid al-sharīah, the concept of khalīfah fī al-ar, and Sundanese local wisdom into a coherent framework of operational ethics and religious praxis. Practically, area-conscious ethics provides an evaluative framework for assessing environmentally oriented policies and faith-based ecological movements grounded in local religious traditions. The study concludes that Islamic theological anthropocentrism can be reformulated through area-conscious ethics into a paradigm of ecological responsibility aligned with the spirit of deep ecology, thereby enabling Islamic ecotheology to emerge not merely as apologetic, but as a propositional force in articulating sustainable environmental governance.


Keywords


Ekoteologi Islam; Etika Sadar Kawasan; Patanjala.

Full Text:

PDF

References


Ali, M., & Agushi, M. (2024). Eco-Islam: Integrating Islamic ethics into environmental policy for sustainable living. International Journal of Religion, 5(9), 949–957.

Atikawati, D., Gunawan, T., & Sunarto, S. (2019). Konsep “Khalifah fil Ardh” dalam Perspektif Etika Lingkungan. Bumi Lestari Journal of Environment, 19(2), 45. https://doi.org/10.24843/blje.2019.v19.i02.p05

Bauman, W. A., Bohannon, R., & O’Brien, K. J. (2011). Grounding religion. Routledge Taylor and Francis Group.

Berry, T. (2009). The great work: Our way into the future. 토마스베리의 위대한 과업.(이영숙 역). 서울: 대화문화아카데미.

Budiman, A., & Anditasari, P. (2021). Spiritualitas Agama bagi Bencana Kemanusiaan dalam Filsafat Perenial: Tinjauan Pemikiran Filsafat Seyyed Hossein Nasr. Jaqfi: Jurnal Aqidah Dan Filsafat Islam, 6(2), 112–124.

Foltz, R. (2003). Islam and ecology: A bestowed trust. Center for the Study of World Religions, Harvard Divinity School.

Gottlieb, R. S. (2006). A greener faith: Religious environmentalism and our planet’s future. Oxford University Press.

Helfaya, A., Kotb, A., & Hanafi, R. (2018). Qur’anic ethics for environmental responsibility: Implications for business practice. Journal of Business Ethics, 150(4), 1105–1128.

Heriyanto, H. (2011). Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam. Mizan Publika.

ʻIzz al-Dīn, M. Y. (2000). The environmental dimensions of Islam. James Clarke & Co.

Jenkins, W., Tucker, M. E., & Grim, J. (2016). Routledge handbook of religion and ecology. Routledge New York.

Karimullah, S. S. (2024). Humanitarian Ecology in Islamic Law: Balancing Human Needs and Environmental Preservation in Islamic Law. Asy-Syari’ah, 26(2), 113–136.

Keraf, A. S. (2010). Etika lingkungan hidup. Penerbit Buku Kompas.

Lohlker, R. (2024). Islamic Ecotheology: Transcending Anthropocentrism through Wahdat al-Wujūd. Ascarya: Journal of Islamic Science, Culture, and Social Studies, 4(2), 82–89.

M. Syauqi, R. A. A. (2025). Ekologi dan Hadits: Analisis tentang Peran Manusia sebagai Khalifah di Bumi. https://doi.org/10.5281/ZENODO.15427257

Mangunjaya, F. M. (2019). Konservasi Alam dalam Islam edisi revisi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Nasr, S. H. (1968). Man and nature: The spiritual crisis of modern man.

Northcott, M. S. (2013). A political theology of climate change. Wm. B. Eerdmans Publishing.

Palmer, M., & Finlay, V. (2003). Faith in conservation: New approaches to religions and the environment. World Bank Publications.

Pepep Dw. (2022). Sadar Kawasan Kapan dan Dimana: Manusia Bebas, Berbatas, hingga Tak Punya Akses (September 2022). BRIN.

Rahayu, M. I. F., Susanto, A. F., & Muliya, L. S. (2018). Religious-Cosmic Based Philosophical Foundation of Environmental Development Law in Sundanese Local Wisdom.

Santosa, G., Hadianda, D. S., & Maulana, A. (2024). Relasi Pengetahuan Ekologi Masyarakat Sunda (Patanjala) Dengan Pola Permainan Karawitan Bangkongan dan Teongeretan. Prosiding ISBI Bandung.

Smart, N. (1996). Dimensions of the sacred: An anatomy of the world’s beliefs. Univ of California Press.

Sugiant, R. N., & Shahruddin, M. S. (2025). Holy Earth: Harnessing Religious Ethics and Faith-Based Action to Combat Climate Change. Socio Politica: Jurnal Ilmiah Jurusan Sosiologi, 15(1), 115–124.

Wahyudin, P. (2022). Sadar Kawasan Kapan dan di Mana: Manusia Bebas, Berbatas, Hingga tak Punya Akses. Penerbit BRIN.

White Jr, L. (1967). The historical roots of our ecologic crisis. Science, 155(3767), 1203–1207.




DOI: 10.24235/jy.v11i2.23721

Article Metrics

Abstract view : 0 times
PDF - 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Yaqzhan: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Indexed By:

                          

 

EDITORIAL OFFICE:

UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Perjuangan Street of Sunyaragi, Cirebon City, West Java, Indonesia 45132 Phone. 0231-489926.

 

Jurnal Yaqzhan: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan is licensed under a Creative Commons 4.0 International License.