Semantic Reception of Khilafiyyah Hadith and the Production of Horizontal Religious Conflict in Indonesia

Muhandis Azzuhri(1*), Faliqul Isbah(2), Abdul Basith(3), M. Fairuz Rosyid(4), Ana Faila Sufa(5),


(1) Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
(2) Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
(3) Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
(4) Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
(5) Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
(*) Corresponding Author

Abstract


This study examines how differing semantic receptions of ḥadīth khilāfiyyah among Islamic mass organizations (ormas Islam) in Indonesia contribute to horizontal conflict and prolonged religious controversy, thereby challenging the spirit of religious moderation. The research aims to analyze how identical ḥadīth texts generate divergent meanings and truth claims that shape social exclusion and intergroup tensions. Employing a qualitative approach, this study investigates selected ḥadīth khilāfiyyah from kutub al-tis‘ah as the material object and the contested receptions of Islamic organizational figures as the formal object. Data were collected through textual documentation of ḥadīth and their commentaries, online observation of national news reporting religious conflicts, and semi-structured interviews with relevant actors. Data analysis followed the Miles and Huberman model, encompassing data reduction, display, and verification, and was further interpreted through the reception theory framework of Hans Robert Jauss and Wolfgang Iser. The findings reveal that key semantic gaps within specific ḥadīth phrases—such as bid‘ah, al-jamā‘ah, and khālifū—enable exclusive interpretations that are institutionalized as truth claims by dominant groups. These receptions function performatively, legitimizing practices of stigmatization, rejection of mosques, dissolution of religious gatherings, and marginalization of minority groups. The study concludes that horizontal religious conflict is rooted not in the ḥadīth texts themselves but in closed semantic receptions, underscoring the necessity of hermeneutical awareness and semantic literacy to strengthen religious moderation.

Key words: ḥadīth khilāfiyyah; semantic reception; Islamic mass organizations; horizontal conflict.

 

Penelitian ini mengkaji bagaimana perbedaan resepsi semantik terhadap hadis-hadis khilafiyah di kalangan organisasi massa Islam (ormas Islam) di Indonesia berkontribusi pada terjadinya konflik horizontal dan kontroversi keagamaan yang berkepanjangan, sehingga menantang semangat moderasi beragama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teks hadis yang sama dapat menghasilkan makna dan klaim kebenaran yang berbeda-beda, yang kemudian membentuk praktik eksklusi sosial dan ketegangan antarkelompok. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengkaji sejumlah hadis khilafiyah yang bersumber dari kutub al-tis‘ah sebagai objek material, serta resepsi yang diperdebatkan di kalangan tokoh ormas Islam sebagai objek formal. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi teks hadis dan kitab syarahnya, observasi daring terhadap pemberitaan nasional terkait konflik keagamaan, serta wawancara semi-terstruktur dengan aktor-aktor terkait. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta ditafsirkan lebih lanjut menggunakan kerangka teori resepsi Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa celah-celah semantik pada frasa hadis tertentu—seperti bid‘ah, al-jamā‘ah, dan khālifū—memungkinkan lahirnya tafsir eksklusif yang dilembagakan sebagai klaim kebenaran oleh kelompok dominan. Resepsi tersebut berfungsi secara performatif dalam melegitimasi praktik stigmatisasi, penolakan masjid, pembubaran kegiatan keagamaan, serta peminggiran kelompok minoritas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konflik keagamaan horizontal tidak bersumber dari teks hadis itu sendiri, melainkan dari resepsi semantik yang tertutup, sehingga diperlukan kesadaran hermeneutik dan literasi semantik untuk memperkuat moderasi beragama.

Kata kunci: hadis khilafiyah; resepsi semantik; organisasi massa Islam; konflik horizontal.

Penelitian ini mengkaji bagaimana perbedaan resepsi semantik terhadap hadis-hadis khilafiyah di kalangan organisasi massa Islam (ormas Islam) di Indonesia berkontribusi pada terjadinya konflik horizontal dan kontroversi keagamaan yang berkepanjangan, sehingga menantang semangat moderasi beragama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teks hadis yang sama dapat menghasilkan makna dan klaim kebenaran yang berbeda-beda, yang kemudian membentuk praktik eksklusi sosial dan ketegangan antarkelompok. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengkaji sejumlah hadis khilafiyah yang bersumber dari kutub al-tis‘ah sebagai objek material, serta resepsi yang diperdebatkan di kalangan tokoh ormas Islam sebagai objek formal. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi teks hadis dan kitab syarahnya, observasi daring terhadap pemberitaan nasional terkait konflik keagamaan, serta wawancara semi-terstruktur dengan aktor-aktor terkait. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta ditafsirkan lebih lanjut menggunakan kerangka teori resepsi Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa celah-celah semantik pada frasa hadis tertentu—seperti bid‘ah, al-jamā‘ah, dan khālifū—memungkinkan lahirnya tafsir eksklusif yang dilembagakan sebagai klaim kebenaran oleh kelompok dominan. Resepsi tersebut berfungsi secara performatif dalam melegitimasi praktik stigmatisasi, penolakan masjid, pembubaran kegiatan keagamaan, serta peminggiran kelompok minoritas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konflik keagamaan horizontal tidak bersumber dari teks hadis itu sendiri, melainkan dari resepsi semantik yang tertutup, sehingga diperlukan kesadaran hermeneutik dan literasi semantik untuk memperkuat moderasi beragama.

Kata kunci: hadis khilafiyah; resepsi semantik; organisasi massa Islam; konflik horizontal.


Full Text:

PDF

References


Anova, D. (2023). Perlindungan hukum terhadap warga Sampang penganut aliran Syiah yang menjadi korban konflik dan kekerasan. Novum: Jurnal Hukum, 3(4), 71–86. https://doi.org/10.2674/novum.v3i4.18440

Asad, T. (1986). The idea of an anthropology of Islam. Georgetown University. https://doi.org/10.2307/2802469

Azra, A. (2017). Islam Indonesia: Dari modernisme ke post-modernisme. Mizan. https://mizanpublishing.com

Azra, A. (2017). Religious pluralism in Indonesia. Studia Islamika, 24(3), 389–400. https://doi.org/10.15408/sdi.v24i3.6565

Bowen, G. A. (2009). Document analysis as a qualitative research method. Qualitative Research Journal, 9(2), 27–40. https://doi.org/10.3316/QRJ0902027

Bowen, J. R. (2012). A new anthropology of Islam. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511800059

Brown, J. A. C. (2009). Hadith: Muhammad’s legacy in the medieval and modern world. Oneworld. https://doi.org/10.18574/nyu/9781851686636.001.0001

Brown, J. A. C. (2015). Misquoting Muhammad: The challenge and choices of interpreting the Prophet’s legacy. Oneworld. https://doi.org/10.2307/j.ctt183pbrx

Bruinessen, M. van. (2013). Contemporary developments in Indonesian Islam. Journal of Southeast Asian Studies, 44(2), 222–246. https://doi.org/10.1017/S0022463413000061

CNN Indonesia. (2017, October 17). Masjid Muhammadiyah di Aceh dirusak massa. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171017145023-20-249287/masjid-muhammadiyah-di-aceh-dirusak-massa

Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). Sage. https://doi.org/10.4135/9781483349435

Fatmawati, I. (2023). Diskriminasi sosial dan konflik keagamaan terhadap komunitas Syiah di Sampang Madura. Jurnal Sosiologi Agama, 17(2), 145–162. https://doi.org/10.14421/jsa.2023.172-03

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books. https://doi.org/10.2307/2238117

Hallaq, W. B. (2009). An introduction to Islamic law. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511800380

Hefner, R. W. (2011). Where have all the abangan gone? Asian Studies Review, 35(4), 507–527. https://doi.org/10.1080/10357823.2011.628275

Hefner, R. W. (2019). Islamic populism in Indonesia and the Middle East. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/9781108690403

Hefner, R. W. (2019). Islam and pluralism in Indonesia. The Review of Faith & International Affairs, 17(2), 45–58. https://doi.org/10.1080/15570274.2019.1608666

Hine, C. (2015). Ethnography for the internet: Embedded, embodied and everyday. Bloomsbury. https://doi.org/10.5040/9781474214168

Idris, R., & Dyson, L. (2015). Konflik Sunni-Syiah dan dampaknya terhadap komunikasi intra-religius pada komunitas di Sampang-Madura. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 28(1), 33–49. https://doi.org/10.20473/mkp.V28I12015.33-49

Iser, W. (1978). The act of reading: A theory of aesthetic response. Johns Hopkins University Press. https://doi.org/10.4324/9780203992821

Izutsu, T. (2002). Ethico-religious concepts in the Qur’an. McGill-Queen’s University Press. https://doi.org/10.2307/j.ctt8090x

Jauss, H. R. (1982). Toward an aesthetic of reception (T. Bahti, Trans.). University of Minnesota Press. https://doi.org/10.5749/j.cttttsqn

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Moderasi beragama. Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI. https://balitbangdiklat.kemenag.go.id/moderasi-beragama

Kompas. (2023, February 14). Kasus penolakan Masjid Imam Ahmad bin Hanbal di Bogor. https://www.kompas.com/nasional/read/2023/02/14/penolakan-masjid-imam-ahmad-bin-hanbal-bogor

Kvale, S., & Brinkmann, S. (2009). InterViews: Learning the craft of qualitative research interviewing (2nd ed.). Sage. https://doi.org/10.4135/9781449894564

Lamont, M., & Molnár, V. (2002). The study of boundaries in the social sciences. Annual Review of Sociology, 28, 167–195. https://doi.org/10.1146/annurev.soc.28.110601.141107

Madelung, W. (1997). The succession to Muhammad. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511580593

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Sage. https://doi.org/10.4135/9781452278680

Mir-Hosseini, Z. (2006). Muslim women’s quest for equality. Critical Inquiry, 32(4), 629–645. https://doi.org/10.1086/504713

Misbah, M. (2014). Bid‘ah dan dinamika pemahaman keagamaan pesantren. LKiS. https://lkis.co.id

Motzki, H. (2016). Hadith: Origins and developments. Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315745526

Nasr, V. (2006). The Shia revival. Norton. https://doi.org/10.2307/j.ctt1bh4c8n

Rizkita, M., & Riyanto, W. F. (2023). Violence against Ahmadiyya as productive intolerance. Jurnal Fuaduna, 7(2), 167–183. https://doi.org/10.30983/fuaduna.v7i2.8011

Roy, O. (2004). Globalized Islam. Columbia University Press. https://doi.org/10.7312/roy13094

Saeed, A. (2014). Reading the Qur’an in the twenty-first century. Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315753404

Sujadmi. (2010). Kekerasan terhadap Ahmadiyah di Cikeusik. Jurnal Harmoni, 9(2), 45–62. https://jurnalkemenag.go.id/index.php/harmoni/article/view/209

Suryana, A. (2017). Discrepancy in state practices. Al-Jami’ah, 55(1), 71–104. https://doi.org/10.14421/ajis.2017.551.71-104

Topan, M., Fikri, A., & Hidayat, R. (2024). Religious conflict and contestation of Islamic traditions in Madura. Journal of Indonesian Islam, 18(1), 1–25. https://doi.org/10.15642/JIIS.2024.18.1.1-25

Turner, B. S. (2010). Religion and modern society. Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511781646

Wadud, A. (2006). Inside the gender jihad. Oneworld. https://doi.org/10.2307/j.ctt183pht5

Yin, R. K. (2018). Case study research and applications: Design and methods (6th ed.). Sage. https://doi.org/10.3138/cjpe.022

Zarkasyi, H. F. (2020). Bid‘ah and religious authority in contemporary Islam. Journal of Islamic Studies, 31(3), 367–389. https://doi.org/10.1093/jis/etaa012

dok. (n.d.). Masjid Arqom Kota Pekalongan: Penolakan pembangunan rumah ibadah. https://123dok.com/article/masjid-arqom-kota-pekalongan-penolakan-pembangunan-rumah-ibadah.yd744386




DOI: 10.24235/ibtikar.v14i2.23653

Article Metrics

Abstract view : 0 times
PDF - 0 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2025 Muhandis Azzuhri, Faliqul Isbah, Abdul Basith, M. Fairuz Rosyid, Ana Faila Sufa

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Daftar Indeks:

 

 
My Stat